Welcome to my blog, enjoy reading.

Jumat, 30 April 2010

Tips Akurat Memilih Pemimpin yang Tepat



Oleh : Wildan Rasyid
Mahasiswa Fakultas Farmasi 
Universitas Andalas, Padang



       Pemimpin negara, baik itu presiden, gubernur, bupati/walikota, sampai ketua RT dan RW, semua itu adalah pemimpin bagi setiap warganya. Seoranng pemimpin merupakan faktor penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di saat suatu daerah atau kota dipimpin oleh pemimpin yang bersahaja, jujur, cerdas dan amanah, maka insya Allah rakyatnya akan aman, makmur dan sejahtera. 

            Namun jika sebaliknya, daerah/kota itu dipimpin oleh pemimpin yang korup, tidak jujur, zalim terhadap rakyatnya, niscaya rakyat akan sengsara. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam memilih pemimpin itu, perlu bagi kita menyiapkan langkah yang baik dalam menentukan pilihan, kita mesti memiliki tips akurat memilih pemimpin yang tepat. Agar pemimpin yang kita pilih benar-benar mampu mengayomi rakyatnya.
          Dalam menilai seorang pemimpin kriteria yang tepat adalah dengan merujuk pada gaya/sifat kepemimpinan Rasulullah. Ada beberapa sifat yang dimiliki oleh para nabi dan rasul, yaitu : Amanah (dapat dipercaya), Siddiq (benar), Fathonah (cerdas/bijaksana), serta tabligh (menyampaikan), keempat sifat ini juga layak untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.
                 Pilihlah pemimpin yang amanah, agar dia benar-benar berusaha menyejahterakan rakyat, mampu menaungi rakyat, mampu menghidupi rakyat, bukannya mencari hidup dari rakyat, mampu melayani rakyatnya, bukan minta dilayani rakyat. Bukan hanya bisa menjual asset negara atau kekayaan alam daerah untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Pilihlah pemimpin yang cerdas, agar dia tidak mudah ditipu anak buahnya atau kelompok lain yang membuat rugi daerah/kotanya. Seorang pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan dan menyejahterakan rakyatnya. Dan juga mampu menegakkan keadilan dengan kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.
         Kadang-kadang kita begitu apatis dengan pemimpin yang korup, sehingga memilih untuk golput(golongan putih). Sikap golput atau tidak memilih pemimpin merupakan sikap yang kurang baik. Seandainya calon pemimpin itu tidak ada yang sesuai criteria kita, maka pilihlah orang yang lebih baik akhlaknya dan dekat dengan ulama, walau ia tidak sepintar yang lainnya, dari pada memilih orang yang pintar, namun tak beragama. Tapi itu langkah terakhir yang ditempuh, sebaiknya pilihlah yang cerdas intelektualnya dan mantap iman dan akhlaknya.
              Di dalam islam kepemimpinan itu sangat penting, sehingga nabi pernah berkata, “jika kalian bepergian, pilihlah satu orang jadi pemimpin , jika hanya berdua, maka salah satunya jadi pemimpin”. Shalat wajib pun yang paling baik adalah yang ada pemimpinnya (imam). Oleh karena itu, kita mesti menyiapkan tips dan berpikir kritis dalam memilih pemimpin.

                  Sebagaimana Allah telah berfirman,”Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih, yaitu : Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan disisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (An-Nisa’,4 :138-139).

Adapun beberapa tips akurat dalam memiliih pemimpin yang tepat yaitu :

1. Memilih pemimpin yang jujur.

              Dari Ma’qil ra. berkata : “saya akan menceritakan kepada engkau hadist yang saya dengar dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda, “Seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat (pejabat), kalau ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia tidak akan memperoleh bau surga. (HR.Bukhari)”. Kita mesti memilih pemimpin yang jujur, yaitu jujur terhadap diri sendiri, maupun orang lain. Jujur dengan kekuatan yang dimiliki, sadar akan kelemahan dalam dirinya, serta berusaha untuk memperbaikinya.

2. Memilih pemimpin yang transparansi dalam kepemimpinannya, ramah dan bersikap terbuka.

            Pemimpin yang transparan dalam pemerintahannya dan bersikap terbuka, ia akan mau menerima saran dan kritikan dari rakyat, bahkan ia takkan segan untuk meminta pendapat langsung dari rakyat, demi kemajuan dan kemakmuran rakyatnya. Dengan transparansi juga, rakyat akan percaya kepada pemerintah (karena tidak ada bohong diantara kita). Selain itu carilah pemimpin yang bersikap terbuka, yaitu yang mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.

3. Memilih pemimpin yang memiliki latar belakang yang baik.

           Hal ini dapat kita lihat dari pendidikannya, kehidupan, keluarga dan keturunannya. Kita dapat mengetahuinya, setelah kita mencari tahu tentang siapa dia (pemimpin) itu. (jangan-jangan ia mantan napi).

4. Memilih pemimpin yang adil
               Dewasa ini, memilih pemimpin yang adil sangatlah sulit, jika dibandingkan dengan criteria lainnya. Kebanyakan pemimpin sekarang gayanya membela untuk kepentingan rakyat, namun dibalik itu rakyat dibikinnya sengsara, demi kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.
“sesungguhnya Allah SWT akan melindungi negara yang menegakkan keadilan, walaupun ia kafir, dan sebaliknya, Allah tidak akan melindungi negara yang zalim (tiran), walaupun ia muslim” (mutiara I dr Ibn Abi Thalib)
            Disaat rakyat kecil yang berlaku salah, katakanlah itu mencuri sebuah coklat ataupun sebuah semangka, itu pun karena kelaparan, tidak ada uang membelinya. Lalu mereka disidang dengan hukuman penjara. Namun disaat tikus-tikus berdasi itu beraksi, mengakibatkan puluhan milyar negara dirugikan. Tak ada hukuman bagi mereka, mereka masih dibiarkan berkeliaran bebas, menari-nari diatas penderitaan rakyat, menikmati uang haram hasil gelapannya. Hati-hati dengan pemimpin yang demikian, kita tentu tidak mau jika pemimpin yang kita pilih, akan zalim kepada rakyatnya. Allah telah mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena itu lebih dekat dengan taqwa” (QS.Al-Maidah : 51).
             Di zaman Rasulullah, ketika seorang perempuan dari suku Makhzun harus dipotong tangannya lantaran mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta Usama Bin Zaid, supaya memohonkan kepada Rasulullah utnuk membebaskannya. Rasulullah pun marah. Beliau bahkan mengingatkan bahwa kehancuran masyarakat sebelum kita disebabkan oleh ketidakadilan dalam supremasi hokum seperti itu.
               Dikatakan dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Adakah patut engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah dan berkata : Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka dibebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukuman” (HR.Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud,Ahmad, Darlini dan Ibnu Majah).
               Begitu pentingnya pemimpin yang adil itu. Muhammad Isa Dawud dalam bukunya “Dajjal Akan Muncul dari Segitiga Bermuda, (1997:17) mengatakan bahwa negeri Swedia yang merupakan negeri terindah di bumi ini, yang bagaikan surga firdausnya dunia, memiliki Raja Karl Gustav yang merupakan seorang penguasa paling adil di muka bumi ini bersama rakyatnya. Selain itu dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah mengatakan, bahwa ada 7 golongan yang akan mendapatkan perlindungan langsung dari Allah di akhirat kelak, satu diantaranya adalah Pemimpin/imam yang Adil.

5. Memilih pemimpin yang pandai dan cerdas
              Antara orang pandai dengan orang cerdas tidaklah sama. Orang pandai ialah orang yang dapat menjawab semua persoalan dengan ilmunya, seperti kecerdasan berhitung, ilmu teknologi yang bersangkutan dengan kecerdasan Intelektualnya (IQ). Namun orang cerdas mampu membaca keadaan, mencari kesempatan di tengah kesempitan, kalau orang Minangkabau mengenalnya dengan orang yang arif dan bijak. Orang cerdas/arif bijaksana bukan hanya pandai, tapi juga dapat berpandai-pandai demi kemaslahatan rakyatnya. Itulah beda orang pandai dengan orang cerdas atau arif dan bijaksana.
Sebagai pemilih kita mesti cepat tanggap dalam menilai, mana pemimpin yang pandai dan cerdas, mana pemimpin yang cuma pandai. Orang yang banyak bicara dan banyak mengumbar janji, “saya kalau terpilih, saya akan membangun ini dan itu…., mengratiskan ini dan itu….!” Biasa orang seperti itu adalah orang yang bodoh, seperti kata peribahasa “air beriak tanda tak dalam”.

6. Memilih pemimpin yang mampu berkomunikasi, semangat “team work”, kreatif, percaya diri, inovatif dan mobilitas.

7. Jangan Memilih pemimpin yang menjatuhkan atau mejelek-jelekkan orang lain/pemimpin yang sedang berkuasa.
              Kalimat yang demikian dapat kita lihat, ketika ia menggelar kampanye. Menjatuhkandan menjelek-jelekkan orang lain, seolah ialah orang yang paling benar. Hati-hatilah dengan orang yang demikian, tidak usah saja dipilih.

8. Memilih pemimpin yang memiliki rasa kehormatan diri, kewibawaan, karisma dan kedisiplinan seorang pemimpin
              Dengan demikian ia mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas semua kebijakannya. Kita dapat melihat kewibawaan dan karisma/figur seorang pemimpin itu, saat ia berbicara di depan umum dan dalam kepribadian sehari-harinya.

9. Kemudian pilihlah sesuai dengan hati nurani kita.
              Jangan pernah sekali-kali berpikiran untuk Golput (golongan putih) atau tidak memilih. Ingat…! Satu suara kita menentukan bangsa dan daerah ini 5 tahun yang akan datang.
“Jadilah bangsa yang cerdas, pintar, dan berbudaya”.

          Dan ingatlah…! Kita harus mencegah kerusakan dan kemungkaran itu. Sesuai dengan sabda Rasulullah,
“Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hati, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman(HR.Muslim).”

Jumat, 16 April 2010

Artikel : "Seulas Senyum Guru, Sejuta Kebahagian Bagi Murid"


Oleh : Wildan Rasyid
Mahasiswa Fakultas Farmasi
Universitas Andalas, Padang

       Dewasa ini, sudah banyak guru yang pintar secara akademis, lulus dengan IP (Indeks Prestasi) yang tinggi, 3,5: 3,8, atau bahkan ada yang mendapatkan IP 4.0 sewaktu di perguruan tinggi. Namun setelah jadi guru, ada kalanya kepintarannya kurang mengalir kepada muridnya. Tak selamanya guru yang pintar, cerdas intelektualnya dapat mendidik dan menghasilkan siswa yang pintar juga. 
       Katakanlah gurunya tamatan universitas favorit di Indonesia, seperti : UNJ (universitas Negeri Jakarta), UNP (Universitas Negeri Padang), UNIMED (Universitas Negeri Medan) dan lain-lain. Tetapi di dalam proses belajar, hanya sepersekian siswa saja yang mampu menerima pelajaran dengan baik. Kenapa demikian? Apakah siswanya yang bodoh, sehingga tidak dapat menyerapkan pelajaran dengan baik?
                Tidak…! Pada dasarnya, siswa tidak ada yang bodoh, yang ada hanyalah perbedaan daya tangkap dan daya serap, namun itu tak dapat dijadikan alasan dalam proses belajar mengajar. Ada banyak factor penyebabnya, satu di antaranya adalah factor kehangatan emosional guru yang terekspresi lewat senyuman. Ada apa dengan senyuman?
                  Kurangnya ekspresi senyum dari guru kepada murid memang bisa membuat transfer ilmu jadi agak mandek. Bagaimana pun pintarnya sang guru, jika siswa kurang senang dengan gurunya, maka ilmu yang diberikan dalam proses belajar mengajar mustahil dapat diterima dengan baik. Apalagi kalau sang guru kurang ikhlas dalam mengajar, mengajar hanya karena tuntutan pekerjaan belaka. Oleh karena itu ciptakanlah suasana yang menyenangkan dengan membudayakan senyuman.
Jika ditanyakan kepada sang siswa, “mana yang kamu suka belajar dengan guru yang kualitasnya biasa-biasa tapi baik, ramah (mudah senyum) atau belajar dengan guru pintar tapi galak? ” Pasti siswa-siswa akan serempak menjawab “guru yang biasa biasa tapi ramah dan mudah senyum”.
                Terkadang senyuman dianggap hal yang sepele, namun dibalik itu terdapat nilai estetika, rasa cinta, kasih sayang, kekeluargaan yang tentunya mempengaruhi psikologi dan sikap orang yang melihatnya. Ibarat sakit, senyuman adalah paracetamol yang dapat meredakan sakit. Bedanya senyuman tidaklah berbentuk atau berwujud, tapi secara rohaniahnya langsung mengobati hati yang gundah. Senyuman juga disebut dengan emulgator, yang mengangkat noda-noda, mengikis dendam-dendam, keluh kesah dan perasaan tak senang, sehingga yang tinggal hanyalah hati yang sejuk dengan pancaran senyuman yang bersahabat.
                   Banyak ungkapan yang dibuat murid, yang kemudian dipajang di dinding kelas. “Senyum adalah ibadah”, “Senyummu semangat belajar kami”, ” Senyummu jembatan ilmuku”, “ Senyum guru adalah obat belajar mujarat” Dan banyak lagi kata-kata indah untuk menerjemahkan senyum, menandakan perlunya senyuman guru bagi murid. Namun kenapa jarang sekali guru-guru yang mengindahkan kata-kata yang keluar dari hati murid-muridnya, yang mengharapkan ulasan senyum guru ketika masuk kelas.
Bisa kita bayangkan, guru yang dikenal killer, ditakuti para siswa karena kebringasannya, tiba-tiba hari ini berubah menjadi ramah, murah senyum. Tentunya para siswa akan bertanya-tanya, “Tuh bapak ke sambet dimana ya…? Jika saja hal itu berlangsung setiap hari, tentu siswa yang selama ini merasa takut , suka dongkol dan malas untuk belajar, terutama dengan sang guru, akan ada perubahan. Ia akan menjadi rajin, bahkan menyenangi sang guru. Selain itu siswa yang dulunya penakut akan jadi lebih berani untuk bertanya. Siswa yang dulunya pemalas akan mau memotivasi dirinya agar lebih rajin, dan siswa yang dulunya pelawan (pelaku rawan pencurian), suka dongkol, akan merubah akhlaknya. Senyumannya jadi ibadah bukan?
Sungguh luar biasa nilai sebuah senyuman yang dianggap sepele itu, nilai senyuman sama dengan sedekah, seperti sabda Rasulullah, “ Senyum adalah shadaqoh”
                Sekarang telah disediakan program sertifikasi guru, yang dikenal dengan penggandaan gaji guru, itu terlepas dari plus minusnya, menuntut guru menjalankan profesi dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab. Jika guru mampu memenuhi itu, mereka akan memperoleh imbalan layaknya pekerja keras yang profesional di bidangnya.
                Dalam pentransferan ilmu untuk mengembangkan kreativitas dan inovatif proses belajar mengajar guru mesti lebih banyak mengutamakan sikap santun dan rendah hati. Berbagai kekerasan oknum guru terhadap murid, yang belakangan mencuat, sungguh tak selayaknya terjadi, itu sama halnya guru mencoreng system pendidikan di tanah air.
                Rekontruksi pendidikan yang akrab dikenal dengan Paikem (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) tidak akan dapat berjalan dengan baik, kalau tidak dengan kerja keras, tidak dapat dilakukan dengan setengah hati. Di tambah lagi zaman globalisasi sekarang yang membuat siswa berkembang lebih cepat, berbeda dengan siswa-siswa dulu, yang hidup dengan ilmu dan teknologi yang terbatas.

Bagaimana jika dalam pembelajaran guru berwajah garang dan ketus ?
             Secara teknis, ketika guru masuk kelas dengan wajah yang garang, ketus, masam, atau dibilang angker, dipastikan kelas yang sedang ribut akan tersentak menjadi tenang. Baru saja sang guru berjalan dengan entakan kakinya yang kuat, siswa-siswa sudah pada cemas, “Pak Jhon datang…pak jhon datang…!” teriak mereka sambil berlarian ke tempat duduk. Suasana kelas berubah tegang dan murung. Sikap ketus dan masam guru secara spontan menular kepada semua siswa. Dengan bersikap demikian sang guru sepertinya bermaksud menampakkan kewibawaannya di hadapan murid-murid. Namun secara psikologi, sikap itu malah menghambat kelancaran proses pembelajaran. Bagaimana tidak…? Siswa merasa tertekan, siswa akan cenderung acuh tak acuh, kalau pun mengikuti pelajaran, itu hanya karena terpaksa dan terasa tersiksa. Jika siswa jadi masa bodoh terhadap pembelajaran dan gurunya, berarti proses belajar mengajar bisa di klaim gagal.
             Lain halnya jika guru masuk kelas dengan wajah yang cerah, ramah, dan memancarkan seulas senyuman diwajahnya. Senyum yang tulus dari sang guru dengan akan cepat merembah, mengubah suasana kelas menjadi bergairah. Istilahnya, senyum merupakan bumbu dalam system pentransferan ilmu dari guru kepada murid-muridnya. Sebaik apapun model pembelajaran atau metode mengajar, yang telah dirancang sedemikian rupa, jika guru menyampaikan dengan sikap kaku dan ketus, terlebih lagi dengan tampang yang angker, singkatnya tanpa bumbu senyuman, maka hasilnya akan kurang maksimal. Namun sebaliknya, sesulit apapun pelajarannya, jika disampaikan dengan hal yang menarik yang dibumbui dengan senyum simpatik guru, maka gairah belajar itu akan timbul, hingga usaha dan kerja keras siswa untuk mendapatkan pelajaran itu akan terlihat jelas. Inilah pembelajaran yang diharapkan.
              Tapi ingat janganlah menampilkan senyum yang dibuat-buat, siswa pantang dibohongi guru. Senyum guru mesti murni, muncul dari hati, sehingga jatuhnya juga ke hati. Karena senyum yang ikhlas, menandakan kasih sayang guru terhadap muridnya. Tapi bagaimana kalau ada masalah dengan mulut atau giginya? Seperti gigi ompong atau gingsul, bahkan mengeropos…? Yakinlah wahai guru-guruku! Siswa tak akan mempedulikan itu, mereka akan menghargai wajah teduh guru yang sedang tersenyum manis. Karena senyum adalah rahmat, yang mendatangkan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain. Mengapa disia-siakan?
Orang yang mudah tersenyum menandakan ia orang yang dermawan. Tapi jangan terjemahkan dalam bentuk materi dulu. Orang Arab paling senang melihat orang yang mudah tersenyum dan selalu terlihat bersemangat dan ceria. Mereka menandakan orang seperti itu pertanda kemurahan hati, sikap lapang dada, dan ketanggapan pikiran. Sebuah syair mengatakan, ”Ketika kau melihat (senyuman) senantiasa seolah kau mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini, sungguh tak ternilai harganya, karena, memang ia tak dapat untuk kau beli.”
       Bagaimana keindahan senyuman itu ?

       Berikut ini ada sedikit cerita ulasan tentang senyuman!

             Pagi itu Pak Anto diserang oleh MKKS, Uuups…bukannya Musyawarah Kerja Kepala Sekolah, tapi “Masalah Klasik Keluarga Sederhana”, yaitu kekurangan uang belanja, istrinya marah-marah, siswa-siswanya bertengkar memperebutkan celana, baju, dan kaus kaki, itu karena ibunya suka membelikan barang yang sama untuk siswa-siswanya, ditambah mereka juga saudara kembar. Walau pertengkarannya kecil, tidak sampai ada piring yang terbang, bagaikan ufo melayang di angkasa, tidak ada piring yang pecah, tetapi cukup membuat kepala pak Anto pusing. Kemudian ia meninggalkan kesemberawutan keluarganya dengan hati yang gelisah, ia bawa pergi tancap gas dengan Honda Sebe-er nya alias Supra Fit Biru. Perjalanan pak Anto dipenuhi wajah yang cemberut dan tegang, hingga ia memacu sepeda motor tuanya itu dengan kecepatan penuh. Otaknya pun terasa berputar-putar memikirkan masalah rumah tangganya.
             Setelah sampai di gerbang sekolah, tampak siswa-siswa berseragam putih abu-abu berduyun-duyun memasuki gerbang, pak Anto memperlambat laju sepeda motornya dan membuka helmnya. “Pak…!” Sapa seorang murid, “Assalamu’alaikum, Pak ! sahut murid-murid lainnya sambil tersenyum, menyapa dan bergantian menyalami tangan pak Anto. Pak Anto menjawab salam dan tanpa disadarinya, terasa senyuman siswa-siswa muridnya telah menghipnotis pikirannya, melupakan kegelisahan dan masalah yang ia hadapi di rumah tadi. Pada akhirnya ia pun tersenyum lebar. Suatu keajaiban baru saja terjadi. Pak Anto yang awalnya berada dalam kedumelan hati, kegelisahan, marah , kacau dan pusing yang bersatu membuat otak pak Anto rasanya mau pecah, sekarang hilang begitu saja, seolah telah larut oleh pancaran senyuman yang ia ulaskan kepada murid-muridnya. Dengan muka berseri-seri, kini pak Anto memasuki ruang guru dan menyapa, “Assalamu’alaikum sahabat-sahabatku…!” sahut pak Anto. Guru-guru lainnya pada terkejut, melihat wajah pak Anto yang berseri-seri, dengan ulasan senyumnya yang menyinari ruang majelis guru. Ajaibnya, senyuman pak Anto mampu meluluhkan hati rekan-rekan guru lainnya, ketika ia mengajak para guru untuk bersalaman dan menyambut kedatangan murid-murid dengan senyuman yang penuh dengan kasih sayang di teras depan sekolah. Sungguh indah hari itu, siswa-siswa murid yang melihat guru-gurunya kompak menjadi bersemangat untuk belajar. Disanalah keindahan senyuman yang selama ini dilakukan oleh SMA N 3 Batusangkar, yang merupakan sekolah (Program Layanan Keunggulan Tanah Datar) sejak awal berdirinya tahun 2004, dengan membiasakan budaya salam.
           Apa yang dialami pak Anto diatas, mungkin pernah kita alami, tapi kenapa kita tidak selalu mengamalkannya. Senyum, salam, dan sapa adalah perbuatan yang sepele, dan sangat kecil. Tetapi perbuatan itu mampu mengobati dan menyembuhkan kekesalan, kegundahan hati, kepanikan dan bahkan kesedihan. Kenapa siswa tidak nyaman belajar? Salah satu penyebab karena siswa tidak menemukan cinta, dan kasih sayang ditempat dimana ia belajar. Ibarat sebuah kapal layar, bagaimana kita dapat beristirahat tenang, sementara ada badai yang sedang menggoncang. Begitu juga di sekolah bagaimana siswa akan dapat belajar dengan baik, sementara di depan matanya ia melihat guru-gurunya saling hina dan saling ejek mengejek. Bagaimana ia akan tenang, jika siswa hanya menjadi tempat pelampiasan kemarahan sang guru, sehingga ia masuk ke kelas dengan wajah yang masam dan garang. Mungkin karena urusan rumah tangganya, atau pun karena masalah dengan guru lainnya. Coba bayangkan, kalau kejadian itu berlangsung setiap harinya di sekolah. Apakah kita mampu menciptakan pendidikan yang maju dengan kondisi seperti itu?
             Beberapa penelitian dari para ahli mengatakan, “Orang yang biasa senyum lebar berumur lebih panjang, ketimbang yang senyum seadanya” Hal ini merupakan temuan studi Ernest Label, profesor kebidanan, ginekologi, dan psikolog di Wayne State University, Amerika Serikat. Ada juga yang mengatakan ciri-ciri orang yang jarang senyum itu, pada bagian sekitar matanya akan berkerut. Untuk itu, biasakanlah tersenyum, menebarkan senyuman berarti memberikan kebahagian terhadap sesama. Siswa-siswa, terutama untuk diri sendiri. Niscaya amalan yang dianggap sepele dan kecil itu, jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh ketulusan akan jadi catatan kebaikan yang sangat besar, seperti hadits Rasulullah, “Jangan meremehkan suatu perbuatan kebaikan, walau sekadar menyambut kawan dengan muka yang manis.”

             Jadi, Ayo teman-teman, dan guru-guruku, kita lestarikan budaya senyuman, karena senyuman adalah obat mujarat bagi hati yang gundah.

Senin, 05 April 2010

Sekolah dan Anak-Anak Konseptor


Oleh :
              Wildan Rasyid
Mahasiswa Fakultas Farmasi
Universitas Andalas Padang





         Tentu kita semua tahu dengan kata “sekolah”, yaitu tempat belajar dan menuntut ilmu bersama teman-teman dan guru (guru, yang tentunya lebih pintar dari murid yang diajar). Belajar sngat identik dengan sekolah, sebuah lembaga formal perdidikan. Namun aktifits belajar tidaklah hanya terjadi di sekolah. Jauh dari itu belajar bisa dilakukan dimana saja, seperti yang terungkap dalm pepatah Minng, “Alam Takambang Jadi Guru”, Apa saja yang ada di dunia ini, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan semuanya disebut dengan alam, sehingga kita dapat belajar dari nya.
               Siapa bilang orang tidak bersekolah itu bodoh, dan tidak semua orang yang tidak bisa kuliah berarti gagal dalam hidup. Buya Hamka, orang yang tidak lama mendapatkan pendidikan formal, namun ia mampu menjadi sastrawan terkenal dengan karya-karyanya, menjadi ulama besar dan berperan penting dalam kancah politik bangsa ini. Thomas Alfa Edison, siapa menyangka, ia yang mendapatkan pendidikan formal hanya sampai Elementary School (Sekolah Dasar) di Port Huron, Michigan, USA, dikeluarkan dari sekolah karena dianggap idiot. Namun ia mampu menjadi penemu terkenal di seluruh dunia. Tercatat 1000 macam penemuan yang telah dipatenkannya, seperti : lampu listrik, fonograf, aki, telegram, piringan hitam, kamera film, serta proyektor, bahkan ia juga menyempurnakan telepon agar dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
               Ada pendapat beberapa pakar yang rada-rada “sinis” dengan sekolah, misalnya Edward de Bono, penulis buku New Thingking For The New Millenium, yang mengatakan bahwa sekolah adalah academics games (permainan akademis) yang memberi kontribusi bagi pengkerdilan cara berpikir. Menurutnya, sekolah atau yang ia sebut dengan academics games itu adalah permainan yang khusus sekali, yang mana manusia diharuskan menyerap, mengingat, atau menghafal banyak hal, baik berupa informasi yang disampaikan melalui tulisan, maupun dengan metode ceramah yang biasa dilakukan guru-guru yang pemalas. Semua harus disimpan baik-baik, dan bila diminta kembali (yang dikenal dengan ujian) kita harus mengeluarkannya dalam bentuk tulisan di lembaran jawaban. Seorang pelajar yang tidak terampil dalam mengingat dan menyimpan informasi akan mengalami KO (knock out), kalah telak. Padahal ia memiliki potensi yang amat dahsyat, karena di dalam dirinya terdapat otak yang cerdas yang tidak tergantung pada pengetahuan yang disimpan.
Hal ini juga didukung oleh Paulo Freire, seorang pakar pendidikan asal Brazil, yang menyebutkan bahwa sekolah hanya menjadikan otak manusia laksana bank informasi. Informasi itu didepositokan ke dalam sel-sel otak . Dan pada suatu saat, kita harus menarik deposito itu kembali. Artinya apa ?, otak kita yang berharga ini, super canggih dengan komponen-komponennya (made by Allah) ini, hanya sekadar tempat persinggahan dan pelabuhan atau tempat penampungan informasi saja.

             Apakah sekolah yang demikian, yang diharapkan mampu menghasilkan anak bangsa yang dapat merubah bangsa ini menjadi lebih baik ? Tentu tidak dan sekarng bgaimana lagi ? Adalah sangat perlu bagi kita par pelajar untuk mencari sekolah yang dapat membangun kita, untuk bisa menatap masa depan.
Kalau kita pikir-pikir bahwa pendapat Edward de Bono itu, ada benarnya juga bukan? Terkadang, anak didik seolah-olah dijadikan alat, demi menjaga nama baik sekolah. Namun kita harus berpikiran positif juga, bahwa tidak semua sekolah yang memiliki pemikiran yang rendah demikian. Saran buat pelajar yang mau melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan sekolah yang lebih tinggi, yaitu pilihlah sekolah yang tepat dengan segala mutu dan kualitasnya yang dapat bersaing (kompetisi) dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia anak bangsa ke depan. Pilihlah sekolah yang tidak menjadikan kita sebagai alat, tapi sekolah yang menjamin masa depan kita. OK !
                Dewasa ini mencari sekolah dengan guru-guru yang sejati, sungguh sulit. Kebanyakan sekolah yang ada hanya menjadi tempat orang-orang penghafal, yang hasil hafalannya itu harus dimuntahkan dalam lembaran-lembaran kertas ujian, yang akhir dari semua itu diberikan nilai. Jika ingin mengetahui potret kemampuan otak, kita bisa melihat dari hasil atau nilai yang diberikan, “Wah…nilaiku 95, aku 90…! Kalau aku 100..!” Apakah nilai otak kita, cukup dihargai hanya dengan nilai 100 ?

               Sebenarnya, banyak orang yang telah menganut “ No School” atau tidak mengikuti sekolah formal, bahkan menyorakkannya melalui kampanye kesana-kemari, yang tentunya dengan alasan tersendiri yang cukup logis. Namun kita tak usahlah memikirkan hal itu, atau bahkan ikut dalam kampanye anti terhadap sekolah formal. Tapi kita perlu berpikir bijak untuk mempersiapkan sekolah dengan cara yang pas. Singkatnya, jangan jadikan sekolah hanya tempat sekedar untuk menghafal, utnuk mencari nilai semata, namun kita harus menjadikan sekolah sebagai tempat yang betul-betul dapat mengembangkan dan menumbuhkan kembangkan daya potensi dan bakat diri kita, serta dapat menyalurkan daya kreasi, imajinasi dan apresiasi yang ada dalam diri kita.

              Penciptaan generasi yang unggul itu tidaklah instant, alias Bim Sa La Bim, namun butuh proses dan langkah-langkah jitu, yang timbul dari interaksi di lingkungan sekolah, mulai dari stakeholder, guru, dan murid, serta karyawan yang ada di sekolah itu.Untuk itu ada beberapa strategi untuk dilakukan agar kita tidak menjadi pelajar pasif atau konseptor, yang menjadikan sekolah hanya sebagai tempat mengahafal :

1) Kita harus mempersepsikan sekolah sebagai tempat memikirkan ciptaan Allah. Karena alam inji diciptakan Allah untuk kita manusia, maka wajib bagi kita untuk menjaga dan melestarikannya. Buang jauh-jauh pikiran bahwa the last target kita adalah nilai. Nilai memang penting, tapi bukan satu-satunya yang harus dipentingkan di sekolah.

2) Mengembangkan rasa ingin tahu. Caranya dengan banyak membaca buku-buku yang diminati. Jangan hanya memabca buku pelajaran karena ia bukan sumber utama, masih banyak sumber lain yang dapat membuat rasa ingin tahu kita berkembang. Kalau masalah harga, janagn terlalu dipaksakan, kita bisa membeli buku-buku itu diemperen atau loakan, Toh tidak ada bedanya dengan buku yang dijual di toko-toko besar dan mewah. Janganlah membeli buku karena luarnya saja, tapi terawanglah bahwa buku itu pas buat kita dan dapat membuat kita terinspirasi untuk lebih maju.

3) Menciptakan suasana yang kondusif untuk kita membaca dan belajar di kelas, rumah, minimal di kamar sendiri. Janganlah membatasi subjek buku yang kita baca hanya buku pelajaran tok, karena itu tak ada salahnya kalau kita setarakan posisi buku pelajaran dengan buku-buku inspirasi atau motivasi, buku pelajaran yang berisi kurikulum itu, bukanlah kitab suci. Tapi yang perlu dibuang ke tong sampah adalah buku-buku porno atau buku yang mengundang libido (nafsu seks). Kita tak layak mengkonsumsinya.

4) Ajaklah guru dan komponen sekolah untuk mengkaji ulang cara belajar yang baik, tentunya dengan maksud agar pembelajaran lebih menarik dan efektif. Artinya bawalah ke ruang kelas media atau benda yang menjadi objek yang sedang dipelajari. Contoh : ketika belajar kesenian, yaitu mempelajari alat-alat musik, hadirkanlah berbagai alat-alat musik itu dan pelajarilah cara menggunakan dan memainkannya. Itukan lebih menarik dari pada hanya sekedar mengetahui dari buku dan membayangkannya. Kemudian kalau belajar biologi, misalnya mengenai peredaran darah. Kan lebih bagus dan menarik kalau menggunakan media, seperti menampilkan gambarnya dan peredarannya melalui infokus. Atau minimal, menggambarkannya di papan tulis. Jangan hanya mengandalkan gambar di buku. Agar anak tidak kaku dan mampu menganalisakan bentuk peredaran dan bagaimana peredarannya itu. Karena kalau tanpa dilengkapi dengan gambar, anak akan menghayalkan dan membuat penafsiran sendiri yang jauh dari yang diharapkan. Menurut penelitian, anak didik, khususnya remaja yang dalam pubersitas, cenderung mudah bosan dengan kegiatan yang kaku dan tidak menarik, atau istilah trennya tidak memacu adrenalin.

          Kemudian mengingat daya tangkap anak didik yang berbeda, terkadang bagi anak yang bersifat fisual (memahami lewat penglihatan) metode yang disampaikan dengan metode ceramah (ucapan kata-kata semata, akan sulit baginya menangkap informasi atau pelajaran yang disampaikan.

5) Hilangkan budaya membuat contekan-contekan yang digunakan untuk menghafal atau bahkan disimpan sebagai “jimat” di kala ujian. Namun berusahalah pelajari subjek-subjek yang ada secara natural dengan menggalinya dari berbagai sumber.

6) Bersikap pantang menyerah ! “Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang, tetapi adalah orang yang tegar dalam menghadapi kekalahan”

7) Jangan pernah berhenti utnuk belajar, jangan pernah puas dengan prestasi kita sekarang. Mario teguh pernah berpesan,”Kenapa harus puas, kalau kita masih bisa berprestasi, kenapa harus puas, kalau kita bisa lebih sukses, dan kenapa kita harus berhenti bersyukur, kalau nikmat tuhan tak henti-hentinya mengalir kepada kita” Ingatlah kata pujangga kecil, ”Orang lemah itu adalah orang yang menjadi pemilik dari masa lalu, sedangkan masa itu sedikitpun tidak akan pernah dijumpai lagi” orang ini hanya membanggakan masa lalunya, “Di waktu SMP aku anak tim olimpiade Biologi (tapi sekarang selalu remedial). Aku dulu adalah anak juara kelas (tapi sekarang tinggal kelas), waktu aku SD dan SMP aku menjadi juara umum (tapi sekarang terancam di Drop Out/ DO). Banyak lagi orang yang membanggakan masa dulu, dengan berbagai bahasanya. Hindarilah hal ini, jangan sampai kita menjadi pemilik masa lalu yang tak kunjung kembali. Tataplah masa depan, raihlah masa depan yang cemerlang, jadilah orang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, nusa, bangsa, dan agama. Karena Rasulullah bersabda, ”Sebaik-baik kamu adalah orang yang memberikan manfaat kepada orang lain”

           Oleh karena itu, ubahlah pandangan yang menjadikan sekolah sekedar dalam konteks penghafalan informasi. Semua itu dapat kita ubah dengan memulainya dari diri kita sendiri. Mengubah diri sendiri jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Minggu, 04 April 2010

ArTi PenTing NaMa PriBaDi






Oleh : Wildan Rasyid

W aktu berjalan tanpa suara
I tulah kehidupan di dunia nyata
L ambat laun kan hilang sekejap mata
D an takkan pernah lagi tuk bersua
A ku datang atas nama cinta
N amun bukan suka belaka
R asa cinta karena Allah semata
A llah lah pencipta pria dan wanita
S upaya terhindar dari api neraka
Y akin & percayalah anda semua
I nsya Allah, kebahagiaan akan tercipta
D engan Dia tetap bersama kita

Nak Dua puisi ini…!

W aktu bergulir silih berganti
I ndah terasa sejuk di hati
L ihatlah dunia yang fana ini
D engarlah kicauan burung nuri
A langkah menggoda hati sanubari
N amun itu tak dapat dimungkiri
R asa itu hadir disetiap lelaki
A nak muda yang punya hati
S emua berubah jadi orang yang berarti
Y ang mencintai seorang bidadari
I tulah kehidupan setiap pribadi
D i dunia sampai akhirat nanti